Dewi Cinta

Catatan Harian | Info Terbaru | RPP Kurikulum 2013 | Bank Soal | Rumus Cepat | Matematika

March, 2010

HAK DAN KEWAJIBAN PERAWAT

Posted on March 28, 2010

Hak perawat

  1. Perawat berhak untuk mendapatkan perlindungan hokum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.
  2. Perawat berhak untuk mengembangkan diri melalui kemampuan sosialisasi sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
  3. Perawat berhak untuk menolak keinginan klien yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan serta standard dan kode etik profesi
  4. Perawat berhak untuk mendapatkan informasi lengkap dari klien atau keluarganya tentang keluhan kesehatan dan ketidak puasan terhadap pelayanan yang diberikan.
  5. Perawat berhak untuk mendapatkan ilmu pengetahuannya berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang keperawatan atau kesehatan secara terus menerus.
  6. Perawat berhak untuk diperlakukan secara adil dan jujur baik oleh institusi pelayanan maupun klien.
  7. Perawat berhak mendapatkan jaminan perlindungan terhadap resiko kerja yang dapat menimbulkan bahaya baik secara fisik maupun stres emosional
  8. Perawat berhak di ikut sertakan dalam penyusunan dan penetapan kebijaksanaan pelayanan kesehatan.
  9. Perawat berhak atas privasi dan berhak menuntut apabila nama baiknya dicemarkan oleh klien dan atau keluarganya serta tenaga kesehatan lainnya.
  10. Perawat berhak untuk menolak di pindahkan ketempat tugas yang lain, baik melalui anjuran maupun pengumuman tertulis karna diperlukan, untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan standar profesi atau kode etik keperawatan atau aturan perundang-undangan lainnya.
  11. Perawat berhak untuk mendapatkan penghargaan dan imbalan yang layak atas jasa profesi yang diberikannya berdasarkan perjanjian atau ketentuan yang berlaku di institusi pelayanan yang bersangkutan.
  12. Perawat berhak untuk memperoleh kesempatan untuk mengembangkan klien sesuai dengan bidang profesinya.

Hak perawat menurut clare fagin (1975)

1.    Hak untuk memperoleh martabat dalam rangka mengekspresikan dan meningkatkan dirinya melalui penggunaan kemampuan khusus dan latar belakang pendidikannya.

2.    Hak untuk memperoleh pengakuan sehubungan dengan kontribusinya melalui ketetapan yang diberikan lingkungan untuk praktik yang dijalankan, serta imbalan ekonomi sehubungan dengan profesinya.

3.    Hak untuk mendapatkan lingkungan kerja dengan stres fisik dan emosional, serta resiko kerja yang seminimal mungkin.

4.    Hak untuk praktek profesi dalam batas-batas hokum yang berlaku.

5.    Hak untuk menetapkan standar yang bermutu dalam perawatan yang dilakukan.

6.    Hak untuk berpartisipasi dalam pembuatan kebijakan yang berpengaruh terhadap keperawatan.

7.    Hak berpartisipasi dalam organisasi sosial dan politik yang mewakili perawat dalam meningkatkan asuhan kesehatan.

Kewajiban perawat

  1. Perawat wajib mematuhi semua peraturan institusi yang bersangkutan.
  2. Perawat wajib memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan sesuai dengan standar profesi dan batas kegunaannya.
  3. Perawat wajib menghormati hak klien.
  4. Perawat wajib merujukkan klien kepada perawat atau tenaga kesehatan lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik bila yang bersangkutan tidak dapat mengatasinya.
  5. Perawat wajib memberikan kesempatan kepada klien untuk berhubungan dengan keluarganya, selama tidak bertentangan dengan peraturan atau standar profesi yang ada.
  6. Perawat wajib memberikan kesempatan kepada klien untuk menjalankan ibadahnya sesuai dengan agama atau kepercayaan masing-masing selama tidak mengganggu klien yang lainnya.
  7. Perawat wajib berkolaborasi dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan terkait lainnya dalam memberikan pelayanan kesehatan dan keperawatan kepada klien.
  8. Perawat wajib memberikan informasi yang akurat tentang tindakan keperawatan yang diberikan kepada klien atau keluarganya sesuai dengan batas kemampuannya.
  9. Perawat wajib membuat dokumentasi asuhan keperawatan secara akurat dan bersinambungan.
  10. Perawat wajib mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan atau kesehatan secara terus-menerus
  11. Perawat wajib melakukan pelayanan darurat sebagai tangan kemanusiaan sesuai dengan batas kewenangannya.
  12. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang klien, kecuali jika dimintai keterangan oleh pihak yang berwenang.
  13. Perawat wajib mematuhi hal-hal yang telah disepakati atau perjanjian yang telah dibuat sebelumnya terhadap institusi tempat bekerja.

Category : Uncategorized

Konsep Dasar Etika Keperawatan

Posted on March 28, 2010

ETIKA KEPERAWATAN

Konsep Dasar Etika

A.    Pengertian etika dan profesi

Etika adalah peraturan atau norma yang dapat digunakan sebagai acuan bagi perilaku seseorang yang berkaitan dengan tindakan yang baik dan buruk yang merupakan suatu kewajiban dan tanggung jawab moral.

Etika atau Ethics berasal dari kata yunani, yaitu etos yang artinya adat, kebiasaan, perilaku atau karakter. Menurut kamus webster, Etik adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang apa yang baik dan buruk secara moral.

Etika berasal dari bahasa Yunani ethikos yang berarti adat istiadat atau kebiasaan. Etika adalah ilmu tentang kesusilaan yang menentukan bagaiman sepatutnya manusia hidup didalam masyarakat yang menyangkut aturan-aturan atau prinsip-prinsip yang menentukan tingkah laku yang benar, yaitu baik buruk, kewajiban, dan tanggung jawab.

Moral, berasal dari kata latin yang berarti adat istiadat atau kebiasaan. Moral adalah perilaku yang diharapkan oleh masyarakat yang merupakan “standar prilaku” dan “nilai-nilai” yang harus diperhatikan bila seseorang menjadi anggota masyarakat dimana ia tinggal.

Sumber yang lain menyatakan bahwa moral mempunyai arti tentang perilaku dan keharusan masyarakat, sedangkan etika mempunyai arti prinsip-prinsip dibelakan keharusan tersebut.

²  Etiket atau adat merupakan suatu yang dikenal, diketahui, diulang, serta menjadi suatu kebiasaan didalam suatu masyarakat, baik berupa kata-kata atau suatu bentuk perbuatan yang nyata.

²  Etika kesehatan merupkan penerapan nilai etika terhadap bidang pemeliharaan/pelayanan kesehatan masyarakat.

²  Etika keperawatan dapat diartikan sebagai filsafat yang mengarahkan tanggung jawab moral yang mendasari pelaksanaan praktek keperawatan

²  Inti falsafah keperawatan adalah hak dan martabat manusia, sedangkan fokus etika keperawatan adalah sifat manusia yang unik

B.    Konsep moral dalam praktek keperawatan

  1. Advokasi

Arti advokasi menurutu  ANA (1985) adalah “melindungi klien atau masyarakat terhadap pelayanan kesehatah dan keselamatan praktek tidak sah yang tidak kompeten dan melanggar etika yang dilakukan oleh siapapun”.  Advokasi merupakan dasar falsafah dan ideal keperawatan yang melibatkan bantuan perawatan secara aktif kepada individu untuk secara bebas menentukan nasibnya sendiri

Pada dasarnya peran perawat sebagai advokat pasien adalah memberi informasi dan memberi bantuan kepada pasien atas keputusan apapun yang dibuat pasien. Memberi informasi berarti menyediakan penjelasan atau informasi sesuai yang dibutuhkan pasien. Memberi bantuan mengandung dua peran, yaitu peran aksi dan non aksi.

  1. Akuntabilitas

Akuntabilitas mengandung arti dapat mempertanggung jawabkan suatu tindakan yang dilakukan dan dapat menerima konsekuensi dari tindakan  tersebut.

Akuntabilitas mengandung dua komponen utama, yaitu tanggung jawab dan tanggung gugat. Ini berarti bahwa tindakan yang dilakukan perawat dilihat dari praktek keperawatan, kode etik dan undang-undang dibenarkan atau absah.

  1. Loyalitas

Merupakan suatu konsep dengan berbagai segi, meliputi simpati, peduli, dan hubungan timbal-balik terhadap pihak yang secara profesional berhubungan dengan perawat. Ini berarti ada pertimbangan tentang nilai dan tujuan orang lain secara nilai dan tujuan sendiri. Hubungan profesional dipertahankan dengan cara menyusun tujuan bersama, menepati janji, menentukan masalah dan prioritas, serta mengupayakan pencapaian kepuasan bersama.

Untuk mencapai kualitas asuhan keperawatan yang tinggi dan hubungan dengan pihak yang harmonis, maka aspek loyalitas harus dipertahankan oleh setiap perawat baik loyalitas kepada pasien, teman sejawat, rumah sakit maupun profesi. Untuk mewujudkan hal tersebut, beberapa argumentasi yang perlu diperhatikan sebagai berikut :

o   Masalah pasien tidak boleh didiskusikan dengan pasien lain dan perawat harus bijaksana bila informasi dari pasien harus didiskusikan secara profesional

o   Perawat harus menghindari pembicaraan yang tidak bermanfaat, dan berbagai persoalan yang berkaitan dengan pasien, rumah sakit atau pekerja rumah sakit harus didiskusikan dengan umum.

o   Perawat harus menghargai dan memberi bantuan kepada teman sejawat. Kegagalan dalam melakukan hal ini dapat menurunkan penghargaan dan kepercayaan masyarakat kepada tenaga kesehatan.

o   Pandangan masyarakat terhadap profesi keperawatan ditentukan oleh kelakuan anggota profesi. Perawat harus menunjukkan loyalitasnya kepada profesi dengan berperilaku secara tepat pada saat bertugas

C. Permasalahan dasar etika keperawatan

Bandman dan bandman (1990) secara umum menjelaskan bahwa permasalahan etika keperawatan pada dasarnya terdiri dari lima jenis, yaitu :

²   Kuantitas Melawan Kuantitas Hidup

Contoh Masalahnya : seorang ibu minta perawat untuk melepas semua selang yang dipasang pada anaknya yang berusia 14 tahun, yang telah koma selama 8 hari. Dalam keadaan seperti ini, perawat menghadapi permasalahan tentang posisi apakah yang dimilikinya dalam menentukan keputusan secara moral. Sebenarnya perawat berada pada posisi permasalahan kuantitas melawan kuantitas hidup, karena keluaga pasien menanyakan apakah selang-selang yang dipasang hampir pada semua bagian tubuh dapat mempertahankan pasien untuk tetap hidup.

²  Kebebasan Melawan Penanganan dan Pencegahan Bahaya.

Contoh masalahnya : seorang pasien berusia lanjut yang menolak untuk mengenakan sabuk pengaman sewaktu berjalan. Ia ingin berjalan dengan bebas. Pada situasi ini, perawat pada permasalahan upaya menjaga keselamatan pasien yang bertentangan dengan kebebasan pasien.

²  Berkata secara jujur melawan berkata bohong

Contoh masalahnya : seorang perawat yang mendapati teman kerjanya menggunakan narkotika. Dalam posisi ini, perawat tersebut berada pada masalah apakah ia akan mengatakan hal ini secara terbuka atau diam, karena diancam akan dibuka rahasia yang dimilikinya bila melaporkan hal tersebut pada orang lain.

²  Keinginan terhadap pengetahuan yang bertentangan dengan falsafah  agama, politik, ekonomi dan ideologi

Contoh masalahnya : seorang pasien yang memilih penghapusan dosa daripada berobat kedokter.

²  Terapi ilmiah konvensional melawan terapi tidak ilmiah dan coba-coba

Contoh masalahnya : di Irian Jaya, sebagian masyarakat melakukan tindakan untuk mengatasi nyeri dengan daun-daun yang sifatnya gatal. Mereka percaya bahwa pada daun tersebut terdapat miang yang dapat melekat dan menghilangkan rasa nyeri bila dipukul-pukulkan dibagian tubuh yang sakit.

Konsep Profesi Keperawatan

  1. Etika hubungan tim keperawatan

Tim keperawatan terdiri dari semua individu yang terlibat dalam pemberian asuhan keperawatan kepada pasien. Komposisi anggota tim keperawatan bervariasi, tergantung pada tenaga keperawatan yang ada, sensus pasien, jenis unit keperawatan, dan program pendidikan keperawatan yang berafiliasi/kerjasama

Faktor-faktor tim keperawatan yang diarahkan terhadap kualitas
asuhan keperawatan :

Dalam kerjasama dengan sesama tim, semua perawat harus berprinsip dan ingat bahwa fokus dan semua upaya yang dilakukan adalah mengutamakan kepentingan pasien serta kualitas asuhan keperawatan dan semua perawat harus mampu mengadakan komunikasi secara efektif.

Latar belakang pendidikan, jenis pekerjaan maupun kemampuan bervariasi, maka dalam pemberian tugas asuhan keperawatan, perawatan dibagi dalam berbagai kategori, misalnya perawat pelaksana, kepala bangsal, kepala unit perawat, kepala seksi perawatan (supervisor), dan kepala bidang keperawatan (direktor president of nursing). Dalam memberikan asuhan keperawatan, setiap anggota harus mampu mengkomunikasikan dengan perawat anggota lain, dimana permasalahan etis dapat didiskusikan dengan sesama perawat atau atasannya.

  1. Hubungan perawat-pasien-dokter

Perawat, pasien, dan dokter adalah tiga unsur manusia yang saling berhubungan selama mereka masih terkait dalam suatu hubungan timbal balik pelayanan kesehatan.

Hubungan perawat dengan dokter telah terjalin seiring dengan perkembangan kedua profesi ini, tidak terlepas dari sejarah, sifat ilmu/pendidikan, latar belakang personal dan lain-lain.

Berbagai model hubungan perawat-pasien-dokter telah dikembangkan, diantaranya adalah model yang dikembangkan oleh Szasz dan hollander, mereka mengembangkan tiga model hubungan dokter-perawat di mana model ini terjadi pada semua hubungan antar manusia, termasuk hubungan antara perawat dan dokter

Model Yang Dikembangka Szasz dan hollander :

  1. Model Aktivitas – Pasivitas

Suatu model dimana dokter berperan aktif dan pasien berperan pasif. Model ini tepat untuk bayi, pasien koma, pasien bius, dan pasien dalam keadaan darurat. Dokter berada pada posisi mengatur semuanya, merasa mempunyai kekuasaan, dan identitas pasien kurang diperhatikan. Model ini bersifat otoriter dan paternalistic.

  1. Model Hubungan Membantu

Merupakan dasar untuk sebagian besar dari praktek kedokteran. Model ini terdiri dari pasien yang mempunyai gejala mencari bantuan dan dokter yang mempunyai pengetahuan terkait dengan kebutuhan pasien. Dokter memberikan bantuan dalam bentuk perlakuan/pengobatan. Timbal baliknya, pasien diharapkan bekerja sama dengan mentaati anjuran dokter. Dalam model ini, dokter mengetahui apa yang terbaik bagi pasien, memegang apa yang diminati pasien dan bebas dari prioritas yang lain. Model ini bersifat paternalistic atau sedikit lebih rendah.

  1. Model Partisipasi Mutual

Model ini berdasarkan pada anggapan bahwa hak yang sama/kesejajaran antara umat manusia merupakan nilai yang tinggi. Model ini mencerminkan asumsi dasar dari proses demokrasi. Interaksi, menurut model ini, menyebutkn bahwa pihaknya yang saling berinteraksi mempunyai kekuasaan yang sama, saling membutuhkan, dan aktivitas yang dilakukan akan memberikan kepuasaan kedua pihak.

Robert Veatch mengembangkan empat model hubungan dokter – pasien meliputi :

  1. The Engineering Model

Dalam model ini veatch menolak sikap kemungkinan nilai bebas murni dari ilmu atau kedokteran pilihan-pilihan dibuat secara terus menerus terhadap fakta, observasi, desain penelitian, dan tingkatan statistik signifikasi dalam suatu kerangka nilai-nilia dengan praduga menurut ilmu-ilmu murni.

Sejumlah besar piliha-pilihan nilai dan signifikasi harus dibuat oleh orang-orang terhadap ilmu terapan seperti kedokteran, yang mana tidak seperti ilmu teknik, nilai-nilai tidak dapat ditiadakan dari nasehat teknis terhadap

  1. The Pristly Model

Dalam model ini dokter memegang vigure seorang ahli moral yang dapat memberi tahu pasien apa yang harus dikerjakan pasien pada situasi tertentu. Tradisi ini berdasarkan prinsip etis jangan kerjakan ketidak baikan. Ini mencerminkan pelaksanaan prinsip paternalistic dengan tidak memberitahukan berita buruk kepada pasien, tetapi memberikan suatu pemantapan yang tidak nyata. Model ini tidak menyertakan pasien dalam membuat keputusan, tetapi menyerahkan kebebasan kepada dokter, misalnya, pasien tidak diizinkan menolak transfusi darah yang menurut agamanya tidak diperbolehkan. Prinsip paternalime mengurangi takdir pasien dengan mengurangi pengendalian pasien terhadap tubuh dan kehidupan.

  1. The Collegial Model

Dalam model ini, dokter dan perawat  merupakan mitra dalam mencapai tujuan untuk menyembuhkan penyakit dan mempertahankan kesehatan pasien. Saling percaya dan percaya diri merupakan hal utama. Kedua belah pihak mempunyai kedudukan yang sama. Namun pada kenyataannya, veatch berpendapat bahwa sebenarnya tidak ada dasar untuk persamaan kedudukan dalam hubungan pasien-dokter karna perbedaan kelas sosial, status ekonomi, pendidikan dan sistem nilai menimbulkan asumsi tentang rasa tertarik yang lazim terhadap ilusi.

  1. The Contractual Model

Dalam model ini, peserta yang mengadakan hubungan/interaksi berharap untuk memegang ketaatan terhadap anjuran dan manfaat untuk kedua belah pihak. Kesepakatan terhadap prinsip moral merupakan hal yang penting. Lebih lanjut dalam kesepakatan hubungan, pasien berhak menentukan nasib mereka. Dalam model ini terjadi curah pendapat tentang tanggung jawab dan kewajiban etis.

Dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien, serta hubungan dengan dokter, dikenal beberapa peran perawat, yaitu :

  1. Peran independen ( Mandiri )

Peran mandiri merupakan peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang dapat dipertanggung jawabkan oleh perawat secara mandiri

  1. Peran dependen ( Tergantung Pada Dokter )

Peran tergantung merupakan peran perawat dalam melaksanakan program kesehatan dimana pertanggung jawaban dipegang oleh dokter.

  1. Peran inter dependen ( Kolaborasi )

Peran kolaborasi merupakan peran perawat dalam mengatasi permasalahan secara team work dengan tim kesehatan lain.

  1. Hubungan perawat-pasien dalam koteks etis

Peran perawat secara umum dapat digunakan kerangka yang mengacu pada pandangan dasar hildegard E.peplav, tentang hubungan perawat-pasien, yang merupakan suatu teori yang mendasari nilai dan martabat manusia, pengembangan rasa percaya, pengukuran pemecahan masalah, dan kolaborasi.

Dalam konteks hubungan perawat-pasien, perawat dapat berperan sebagai konselor pada saat pasien mengungkapkan kejadian dan perasaan tentang penyakitnya. Dapat pula berperan sebagai pengganti orang tua (terutama pada pasien anak), saudara kandung, atau teman bagi pasien dalam mengungkapkan perasaannya.

Pada dasarnya hubungan antara perawat-pasien berdasarkan pada sifat alamiah perawat dan pasien dalam berinteraksi perawat-pasien, peran yang dimiliki masing-masing membentuk suatu kesepakatan atau persetujuan dimana pasien mempunyai peran dan hak sebagai pasien dan perawat mempunyai peran dan hak sebagai perawat. Dan dalam hubungan perawat-pasien maka setiap hubungan harus didahului dengan kontrak dan kesepakatan bersama, dimana pasien mempunyai peran sebagai pasien dan perawat sebagai perawat. Kesepakatan ini menjadi parameter bagi perawat dalam memutuskan setiap tindakan etis.

Kode Etik Profesi Keperawatan

A. Pengertian Kode Etik Keperawatan

Kode Etik Keperawatan merupakan bagian dari etika kesehatan yang menerapkan nilai etika terhadap bidang pemeliharaan atau pelayanan kesehatan masyarakat.

Kode etik merupakan salah satu ciri/persyaratan profesi, yang memberikan arti penting dalam penentuan, pemertahanan dan peningkatan standar profesi. Kode etik menunjukkan bahwa tanggung jawab dan kepercayaan dari  masyarakat telah diterima oleh profesi.

1.    Kode etik keperawatan menurut ICN

a)    Tanggung jawab utama perawat

Tanggung jawab utama perawat adalah meningkatkan kesehatan, mencegah timbulnya penyakit, memelihara kesehatan, dan mengurangi penderitaan.

Untuk melaksanakan tanggung jawab utama tersebut perawat harus meyakini bahwa :

·         Kebutuhan terhadap pelayanan keperawatan diberbagai tempat adalah sama

·         Pelaksanaan praktek keperawatan dititik beratkan pada penghargaan terhadap kehidupan yang bermartabat dan menjunjung tinggi hak asasi manusia;

·         Dalam melaksanakan pelayanan dan atau keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat, perawat mengikut sertakan kelompok dan instansi terkait.

b)    Perawat, Individu, dan Anggota Kelompok Masyarakat

Tanggung jawab utama perawat adalah melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

c)    Perawat dan Pelaksanaan Praktek Keperawatan

Perawat memegan peranan penting dalam menentukan dan melaksanakan standar praktek keperawatan untuk mencapai kemampuan yang sesuai dengan standar pendidikan keperawatan.

d)    Perawat dan Lingkungan Masyarakat

Perawat dapat memprakarsasi pembaharuan, tanggap, mempunyai inisiatif, dan dapat berperan serta secara aktif dalam menemukan masalah kesehatan dan masalah sosial yang terjadi dimasyarakat.

e)    Perawat dan Sejawat

Perawat dapat menopang hubungan kerja sama dengan teman sekerja. Baik tenaga keperawatan maupun tenaga profesi lain diluar keperawatan. Perawat dapat melindungi dan menjamin seseorang, bila pada masa perawatannya merasa terancam.

f)     Perawat dan Profesi keperawatan

Perawat memainkan peran yang besar dalam menentukan pelaksanaan standar praktek keperawatan dan pindidikan keperawatan. Perawat diharapkan ikut aktif dalam mengembangkan pengetahuandalam menopang pelaksanaan perawatan secara profesional.

2.    Kode etik keperawatan menurut ANA

Kode etik keperawatan menurut American Nurses Association adalah sebagai berikut :

a)    Perawat memberikan pelayanan dengan penuh hormat bagi martabat kemanusiaan dan keunikan klien yang tidak dibatasi oleh pertimbangan-pertimbangan status sosial atau ekonomi, atribut personal, atau corak masalah kesehatan.

b)    Perawat melingdungi hak klien akan privasi dengan memegang teguh informasi yang bersifat rahasia.

c)    Perawat melindungi klien dan publik bila kesehatan dan keselamatannya terancam oleh praktek seseorang yang tidak berkompeten, tidak etis atau illegal.

d)    Perawat memikul tanggung jawab atas pertimbangan dan tindakan perawatan yang dijalankan masing-masing individu.

e)    Perawat memelihara kompetensi keperawatan.

f)     Perawat melaksanakan pertimbangan ayng beralasan dan menggunakan kompetensi dan kualitafikasi individu sebagai kriteria dalam mengusahakan konsultasi, menerima tanggung jawab, dan melimpahkan kegiatan keperawatan kepada orang lain.

g)    Perawat turut serta bertivitas dalam membantu pengembngan pengetahuan profesi

h)    Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk melaksanakan dan meningkatkan standar keperawatan.

i)      Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk membentuk dan membina kondisi kerja yang mendukun pelayanan keperawatn yang berkualis.

j)      Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk melindungi publik terhadap informasi dan gambaran yang salah serta mempertahankan integritas perawat.

k)    Perawat bekerjasama dengan anggota profesi kesehatan atau warga masyarakat lainnya dalam meningkatkan upaya-upaya masyarakat dan nasional untuk memenuhi kebutuhan kesehatan publik.

3.    Kode etik keperawatan menurut PPNI

Kode etik keperawatan di indonesia telah disusun oleh dewan pimpinan pusat PPNI melalui Musyawara Nasional PPNI dijakarta pada tanggal 29 November 1989.

BAB I

Tanggung jawab perawat terhadap masyarakat kelurga dan penderita

  1. Perawat dalam rangka pengabdiannya senantiasa berpedoman kepada tanggung jawab yang pangkal tolaknya bersumber dari adanya kebutuhan akan perawat untuk orang seorang, keluarga dan masyarakat.

  1. Perawat dalam melaksanakan pengabdiannya dalam bidang perawat senantiasa memelihara suasana lingkungan yang menghomati nilai-nilai budaya, adat istiadat dan kelangsungan hidup beragama dari orang seorang, keluarga atau penderita, keluarganya dan masyarakat.

BAB II

Tanggung jawab perawat tehadap tugas

  1. Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disetai kejujuran profesional dalam menerapkan pengetahuan serta keterampilan perawatan sesuai dengan kebutuhan orang seorang atau penderita, keluarga dan masyarakat.
  2. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya.
  3. Perawat tidak akan menggunakan pengetahuan dan ketermpilan perawatan untuk tujuan yang bertentangan dengan norma-norma kemanusiaan.
  4. Perawat dalam menunaikan tugas dan kewajibannya senantiasa berusaha dengan penuh kesadaran agar tidak terpengaruh oleh pertimbangan kebangsaan, kesukuan, keagamaan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik yang dianut serta kedudukan sosial.
  5. Perawat senantiasa mengutamakan perlindunagan-perlindungan dan keselamatan penderita dalam melaksanakan tugas keperawatan, serta dengan matang mempetimbangkan kemampuan jika menerima dan mengalihtugaskan tanggung jawab yang ada hubungannya dengan perawatan

BAB  III

Tanggung jawab perawat terhadap sesama perawat dan profesional kesehatan lain

Ø  Perawat senantiasa memelihara hubungan baik antara sesama perawat dengan tenaga kesehatan lainnya baik dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara keseluruhan.

Ø  Perawat senantiasa menyebar luaskan pengetahuan, keterampilan dan pengalamanya kepada sesama perawat serta menerima pengetahuan dan pengalamanya kepada sesama perawat serta menerima pengetahuan dan pengalaman dari profesi bidang perawatan.

BAB  1V

Tanggung jawab perawat terhadap profesi perawatan

Ø  Perawat selalu berusaha meningkatkan pengetahuan profesional secara sendiri-sendiri dan atau bersama-bersama dengan jalan menambah ilmu pengetahuan,keterapilan dan pengalam yang bermanfaat bagi pengembangan perawatan.

Ø  Perawat selalu menjunjung tinggi nama baik profesi perawatan dengan menunjukkan peri/tingka laku dan sifat-sifat pribadi yang tinggi.

Ø  Perawat senantiasa berperan dalam menentukan pembakuan pendidikan dan pelanyanan perawat an serta menerapkanya dalam kegiatan-kegiatan pelayanan danpendidikan perawatan.

Ø  Perawatan secara bersama-sama  membina dan memelihara mutu organisasi profesi perawatan sebagai sarana pengabdian.

BAB  V

Tanggung jawab perawat terhadap pemerintah,banggsa dan tanah air

Ø  Perawat senantiasa melaksanakan ketentuan-ketentuan sebagai kebijaksanaan yang di gariskan oleh perintah dalam bidang kesehatan dan perawatan.

Ø  Perawat senantiasa berperan secara  aktif dalam menyumbangkan pikiran kepada pemerintah dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan dan perawatan kepada masyarakat.

Tujuan etika keperawatan

·         Menciptakan dan mempertahankan kepercayaan klien kepada perawat, kepercayaan diantara sesama perawat dan kepercayaan masyarakat kepada profesi keperawatan

·         Menurut American Ethich Commision Bureau On Teaching, tujuan etika profesi keperawatan adalah mampu :

  1. Mengenal dan mengedintisifikasi unsur moral dalam praktek keperawatan
  2. Membentuk strategi atau cara menganalisis masalah moral yang terjadi dalam praktek keperawatan
  3. Menghubungkan praktek moral / pelajaran yang baik dan  dipertanggung jawabkan pada diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan kepada tuhan, sesuai dengan kepercayaannya.

·         Menurut Natonal League For Nursing (NLN) pusat pendidikan keperawatan milik perhimpunan perawat amerika, pendidikan etika keperawatan bertujuan :

  1. Meningkatkan pengertian peserta didik tentang hubungan antar profesi kesehatan lain dan mengerti tentang peran dan fungsi anggota tim
  2. Mengembangkan potensi pengambilan keputusan yang bersifat moralitas, keputusan tentang baik dan buruk yang akan dipertanggung jawabkan kepda tuhan sesuai dengan kepercayaannya.
  3. Mengembangkan sifat pribadi dan sikap professional peserta didik
  4. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang penting untuk dasar praktek keperawatan professional
  5. Memberi kesempatan kepada peserta didik menerapkan ilmu dan prinsip etika keperawatandalam praktek dan dalam situasi nyata.

Category : Uncategorized

Bioetika dan Globalisasinya

Posted on March 28, 2010

SEJAK 12 Oktober 2004 Indonesia memiliki Komisi Bioetika Nasional karena pada hari itu komisi yang terdiri atas 33 anggota ini dilantik di kompleks Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta. Para anggotanya adalah ahli di bidang kedokteran, biologi dan ilmu-ilmu hayati lain, hukum, etika, teologi, agama, ilmu sosial, dan lain-lain. KBN dibentuk berdasarkan surat keputusan bersama tiga menteri: menteri negara riset dan teknologi, menteri kesehatan, dan menteri pertanian. Dalam surat keputusan bersama ini KBN diberi tiga tugas. Pertama, memajukan telaah masalah yang terkait dengan prinsip-prinsip bioetika. Kedua, memberi pertimbangan kepada pemerintah mengenai aspek bioetika dalam penelitian, pengembangan, dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbasis pada ilmu-ilmu hayati. Ketiga, menyebarluaskan pemahaman umum mengenai bioetika.
Demikian Indonesia bergabung dengan negara-negara yang sudah memiliki sebuah komisi bioetika. Sudah sejak dasawarsa 1970-an hampir setiap presiden Amerika Serikat membentuk komisi macam itu walaupun istilah bioetika baru dipakai di dalam nama komisi-komisi terakhir. Presiden Bill Clinton mendirikan National Bioethics Advisory Commission (1995). Presiden George W Bush dalam periode pertama pemerintahannya membentuk The President’s Council on Bioethics (2001). Di Eropa banyak negara memiliki suatu komisi bioetika. Namun, ada juga negara yang menganggap tidak perlu membentuk komisi bioetika khusus karena sudah memiliki organ-organ lain yang memungkinkan tujuan dimaksudkan tercapai.
Tujuan komisi-komisi macam itu adalah menjadi think tank untuk pemerintah di bidang ilmu dan teknologi biomedis serta pelayanan kesehatan dalam arti yang paling luas dan dalam hal itu terutama menyoroti aspek-aspek etisnya. Di samping itu komisi-komisi diharapkan akan memajukan serta menyosialisasikan pemikiran bioetika dalam masyarakat dan menjalin hubungan dengan forum-forum internasional di bidang yang sama.
Kekhususan etika
Jika kita memandang istilah bioetika, secara spontan tampak arti ’etika tentang kehidupan’. Dalam hal ini kata etika barangkali tidak begitu asing bagi telinga kita, tetapi bisa ditanyakan lagi apa persisnya artinya. Kalau kita menyimak cara kata ini dipakai dalam masyarakat, terutama ada dua arti. Pertama, sering kita mendengar atau membaca kalimat seperti berikut ini: “hal itu tidak etis”, “perbuatan itu tidak sesuai dengan etika yang benar”, “kita tidak boleh memikirkan keuntungan saja, masih ada juga etika”. Jika kalimat-kalimat macam itu dipakai, etika dimaksudkan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang diterima sebagai pegangan bagi perilaku kita. Di sini etika sama artinya dengan moral atau moralitas.
Moralitas merupakan suatu aspek penting dalam hidup manusia-pada taraf perorangan maupun sosial-dan sekaligus sebuah aspek yang khas untuk manusia saja. Etika atau moralitas tidak berperanan sama sekali untuk hewan. Hanya manusia yang merupakan makhluk moral. Hanya bagi manusia berlaku bahwa tidak semua hal yang bisa dilakukan boleh dilakukan juga. Perilaku manusia tidak baik sungguh-sungguh kalau tidak ditandai oleh moralitas. Memiliki banyak harta benda, umpamanya, secara spontan dianggap baik karena sangat memperluas kemungkinan orang bersangkutan. Namun, harta benda itu sendiri hanya membuat manusia menjadi baik dalam arti terbatas saja. Jika harta benda yang berlimpah-limpah diperoleh melalui jalan korupsi, akhirnya orang itu tidak baik. Etika atau moralitas tidak membuat manusia baik menurut aspek terbatas saja. Etika membuat dia baik sebagai manusia. Karena itu, manusia baru adalah baik sungguh- sungguh bila berpegang pada etika.
Menurut arti kedua, etika adalah ilmu. Etika ini adalah studi tentang moralitas atau tentang etika dalam arti pertama. Etika ini mempelajari kehidupan baik atau buruk dalam arti moral dan coba menentukan yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Etika ini termasuk filsafat dan karena itu disebut juga etika filosofis atau filsafat moral. Sejarahnya sudah amat panjang, kira-kira 25 abad. Tempat kelahirannya adalah Yunani kuno. Sokrates, Plato, dan Aristoteles dapat dipandang sebagai pemikir yang meletakkan dasar bagi ilmu etika. Dan dengan trio intelektual yang sangat unik ini, etika filosofis segera mencapai kualitas pemikiran yang masih dikagumi sampai sekarang. Aristoteles (384-322 SM) bahkan menciptakan istilah etika dan menulis beberapa buku yang mencantumkan istilah ini dalam judulnya.
Etika dalam profesi medis
Salah satu bidang di mana etika sudah lama mendapat perhatian khusus adalah profesi kedokteran. Ilmu kedokteran juga merupakan ciptaan Yunani kuno yang khas. Hippokrates dari Kos (kira-kira 460-370 SM) adalah orang Yunani kuno yang digelari “bapak ilmu kedokteran” karena untuk kali pertama memberikan suatu dasar ilmiah kepada profesi kedokteran dengan melepaskannya dari suasana gaib dan penuh mistik yang meliputi profesi ini sebelumnya. Yang sangat mengagumkan adalah bahwa Hippokrates yang sama sekaligus memberikan juga dasar etika kepada profesi medis ini dengan merumuskan “Sumpah Hippokrates”. Karena itu, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa etika kedokteran (etika dalam arti: nilai-nilai dan norma-norma moral) seumur dengan profesi kedokteran itu sendiri. Lebih mengagumkan lagi bahwa hubungan antara etika (bahkan langsung dalam bentuk Sumpah Hippokrates ini) dan profesi medis tidak pernah dilepaskan sepanjang masa. Walaupun pasti ada juga banyak ups and downs, Sumpah Hipokrates tahan terus dalam sejarah kedokteran dan memberi kontribusi besar guna menegakkan profesi medis sebagai profesi yang terhormat dalam masyarakat.
Sampai dalam zaman modern, banyak sekali dokter baru di seluruh dunia mengucapkan sumpah ini saat mereka mulai menuaikan profesi medisnya. Baru pada tahun 1948 Majelis Umum Asosiasi Kedokteran Dunia merumuskan suatu versi modern dari Sumpah Hippokrates ini dalam dokumen yang disebut Deklarasi Jenewa (Declaration of Geneva) yang menjadi dasar untuk semua kode etik kedokteran setempat, termasuk juga Kode Etik Kedokteran Indonesia. Namun, jika kita menyimak isinya, sebetulnya cukup mengherankan betapa banyak unsur dari Sumpah Hippokrates yang asli di sini dipertahankan dalam bentuk modern.
Dengan melanjutkan suasana Sumpah Hippokrates, etika kedokteran tradisional terutama terfokuskan pada relasi dokter-pasien dan kewajiban dokter terhadap pasiennya. Dan hal itu masih tetap merupakan aspek penting dari etika profesi medis. Namun, dalam perkembangan luar biasa yang dialami ilmu dan teknologi biomedis selama abad ke-20, muncul banyak masalah etis baru yang tidak pernah disangka sebelumnya dan tidak tersentuh oleh etika kedokteran yang tradisional.
Sebuah contoh yang mencolok mata adalah penelitian biomedis yang mengikutsertakan subyek manusia. Seusai Perang Dunia II, baru diketahui eksperimen-eksperimen kejam yang dilakukan dokter-dokter Nazi selama rezim Hitler di Jerman dengan korban-korban mereka yang kebanyakan keturunan Yahudi. Pengalaman mengejutkan ini memicu perhatian besar untuk etika penelitian biomedis yang sejak saat itu menjadi bagian penting dari etika biomedis. Perlu diperhatikan lagi bahwa di antara peneliti-peneliti biomedis itu terdapat semakin banyak ahli dari luar profesi kedokteran, seperti ahli-ahli biologi, yang juga tidak terdidik dalam tradisi etika kedokteran dan tidak pernah mengucapkan Sumpah Dokter. Meski demikian, tidak bisa disangkal bahwa seluruh dunia penelitian ini merupakan suatu sektor hakiki dari ilmu-ilmu kedokteran.
Contoh lain adalah problem-problem baru yang muncul berhubungan dengan pengembangan intensive care unit (ICU) yang memakai alat-alat canggih seperti respirator, mulai dasawarsa 1950-an dan 1960-an. Dengan teknologi baru ini dimungkinkan bahwa fungsi pernapasan dan peredaran darah diambil alih oleh mesin. Bila mesin dihentikan, pasien langsung meninggal karena ia tidak lagi bisa bernapas secara spontan. Namun, jika pasien hanya bernapas dengan bantuan mesin, apakah dapat dikatakan bahwa ia masih “hidup” dalam arti yang sebenarnya? Perbatasan antara hidup dan mati menjadi kacau! Permasalahan ini agak cepat mengakibatkan munculnya pengertian baru tentang kematian, yaitu mati otak: manusia adalah mati jika seluruh otaknya mati atau tidak memiliki aktivitas lagi. Kalau pasien dengan kondisi itu sudah sungguh mati otak, kita boleh mengambil organ-organnya untuk ditransplantasi pada pasien lain yang membutuhkan. Demikian memang prosedurnya dalam transplantasi jantung, umpamanya.
Selain mengubah definisi kematian itu sendiri, pemakaian alat bantu hidup dalam ICU menimbulkan banyak masalah etis baru lagi. Misalnya, kalau kita menghentikan alat bantu hidup seperti respirator, apakah kita tidak membunuh pasien? Atau, sebaliknya, kita menyiksa pasien terminal dengan memakai terus alat-alat bantu hidup itu, sedang pasien sudah tidak dapat disembuhkan dengannya? Pertanyaan-pertanyaan ini memang menyangkut hubungan dokter-pasien, tetapi dalam perspektif baru yang tidak dibayangkan sebelumnya.
Masalah-masalah etika yang sama sekali baru seperti itu merupakan latar bagi munculnya bioetika sekitar akhir dasawarsa 1960-an. Tidak dapat diragukan, timbulnya bioetika dipicu oleh “revolusi biomedis” yang berlangsung dalam abad ke-20. Bioetika adalah refleksi etis atas pertanyaan-pertanyaan baru yang ditimbulkan oleh life sciences dan teknologi biomedis sejak kira-kira pertengahan abad ke-20. Perkembangan yang begitu cepat dan kadang-kadang sungguh revolusioner mengundang kalangan ilmiah untuk juga memikirkan implikasi-implikasi etisnya. Karena itu, bioetika dapat dipandang sebagai perluasan etika kedokteran yang tradisional. Dengan demikian, di satu pihak ada kesinambungan dengan tradisi etika kedokteran sejak zaman Hippokrates, tapi di lain pihak ada juga perspektif baru, bukan saja karena menyoroti masalah- masalah baru, melainkan juga karena ditandai ciri-ciri baru yang akan dibahas lagi lebih lanjut.
Kelahiran bioetika
Bioetika ternyata tidak menjadi mode sesaat saja, sebagaimana terjadi dengan cukup banyak inovasi intelektual lainnya. Di Indonesia pun bioetika sudah bukan benda asing lagi, terutama dalam kalangan akademis. Misalnya, tahun 1988 di Universitas Atma Jaya, Jakarta, diadakan seminar bioetika yang mengikutsertakan pakar-pakar dari Belanda, Belgia, dan Amerika Serikat. Bahan seminar kemudian diterbitkan dalam bentuk buku: Bioetika. Refleksi atas Masalah Etika Biomedis, Jakarta, Gramedia, 1990. Dan sejak tahun 2000 kita memiliki “Jaringan Bioetika dan Humaniora” yang sudah tiga kali menyelenggarakan pertemuan nasional.
Bagaimana awal mula bioetika? Orang yang biasanya disebut untuk kali pertama menciptakan istilah bioethics adalah Van Rensselaer Potter, peneliti biologi di bidang kanker dan profesor di Universitas Wisconsin. Awal tahun 1971 ia menerbitkan buku Bioethics: Bridge to the Future. Tahun sebelumnya ia sudah menulis sebuah artikel yang menyebut istilah yang sama: Bioethics, the Science of Survival. Kemudian Potter mengakui bahwa istilah ini tiba-tiba timbul dalam pemikirannya, semacam “ilham”. Ia memaksudkan bioetika sebagai ilmu baru yang menggabungkan pengetahuan ilmu-ilmu hayati dengan pengetahuan tentang sistem-sistem nilai manusiawi dari etika. Dengan demikian, dua kebudayaan ilmiah yang senantiasa terpisah dapat memperkuat dan memperkaya satu sama lain. Hal itu perlu supaya bangsa manusia dapat bertahan hidup. Sebagai tujuan terakhir bidang baru ini ia melihat “not only to enrich individual lives but to prolong the survival of the human species in an acceptable form of society”.
Tidak lama kemudian André Hellegers dan kawan-kawan mulai memakai juga kata bioethics. Hellegers adalah ahli kebidanan, fisiologi fetus, dan demografi yang berasal dari Belanda dan bekerja di Universitas Georgetown, Washington DC. Ia berpikir bahwa dia sendiri (bersama rekan-rekannya) menciptakan istilah itu untuk kali pertama dan memang mungkin terjadi demikian, tak tergantung dari Potter. Namun, lebih probabel adalah Hellegers membaca kata itu dalam artikel atau buku Potter, lalu melupakan asal-usul itu dan secara spontan memberi isi baru kepada istilah ini. Yang pasti adalah Hellegers memakai kata bioetika seperti dimengerti kemudian. Ia memaksudkan bioetika sebagai kerja sama antara ilmu-ilmu hayati, ilmu sosial, dan etika dalam memikirkan masalah-masalah kemasyarakatan dan moral yang timbul dalam perkembangan ilmu-ilmu biomedis.
Pada tahun 1971 Hellegers mendirikan The Joseph and Rose Kennedy Institute for the Study of Human Reproduction and Bioethics di kampus Universitas Georgetown, Washington DC, kemudian namanya diubah menjadi Kennedy Institute of Ethics. Pendirian institut ini dimungkinkan karena sumbangan besar keluarga Kennedy. Hellegers menjadi direktur pertama. Dalam hal ini ia terutama tampil sebagai organisator dan inspirator yang menggerakkan orang lain. Ia sendiri hanya menerbitkan sedikit publikasi. Di antara staf selama tahun-tahun pertama terdapat ahli-ahli filsafat dan etika: Edmund Pellegrino (juga dokter), Tom Beauchamp, James Childress, Robert Veatch. Melalui ceramah, kursus, publikasi ilmiah serta populer, partisipasi dalam komisi-komisi, dan lain-lain mereka memberi kontribusi besar dalam mengembangkan bioetika sebagai suatu bidang intelektual dan akademis yang khusus. Antara lain mereka menerbitkan Encyclopedia of Bioethics, 1978, empat jilid, di bawah redaksi Warren Reich.
Ada yang berpendapat bahwa ensiklopedi itu memainkan peranan penting dalam menciptakan kesatuan, koherensi, dan arah jelas bagi bioetika sebagai suatu bidang ilmiah yang baru. Edisi kedua keluar pada tahun 1995 dalam lima jilid, dengan isi yang 80 persennya baru. L Walters dan TJ Kan memimpin proyek Bibliography of Bioethics, yang menginventarisasi semua literatur internasional di bidang bioetika. Dengan mengikuti perkembangan teknologi informasi, proyek ini kemudian dikomputerasi lagi. Proyek khusus dari dua anggota staf adalah buku Beauchamp/Childress, The Principles of Biomedical Ethics, 1979. Buku ini menjadi buku pegangan yang paling banyak dipakai dalam dunia berbahasa Inggris di bidang bioetika. Edisi- edisi berikutnya mengalami banyak revisi. Edisi ke-5 keluar pada tahun 2001. Setelah berdiri 20 tahun, institut ini baru memiliki majalah ilmiah sendiri: Kennedy Institute of Ethics Journal (sejak 1991), dan segera menjadi salah satu majalah terkemuka di bidangnya.
Kennedy Institute bukan lembaga pertama di bidang bioetika. Dua tahun sebelumnya di Hastings-on-the-Hudson, New York, sudah didirikan Institute of Society, Ethics, and the Life Sciences (1969) yang kemudian dikenal dengan nama singkat Hastings Center. Pusat Bioetika ini didirikan oleh Daniel Callahan, ahli filsafat, dan Willard Gayling, profesor psikiatri di Universitas Columbia, New York. Mereka mendirikan lembaga baru ini sebagai “an independent, nonpartisan, nonprofit organization that addresses fundamental ethical issues in the areas of health, medicine and the environment”. Jadi, nama dan program inti mereka tidak memakai nama bioetika. Namun, dalam kenyataan mereka berkecimpung dalam usaha yang tidak lama sesudahnya dimengerti sebagai bioetika. Dan kadang-kadang mereka memakai istilah bioetika juga, seperti misalnya Callahan dalam artikelnya yang terkenal Bioethics as a discipline (1973). Hastings Center ini menerbitkan Hastings Center Report (sejak 1971) yang berulang kali dipuji sebagai majalah paling bermutu mengenai bioetika. Di samping itu mereka menerbitkan juga IRB: A Review of Human Subjects Research, jurnal khusus untuk komisi-komisi etika penelitian. Dari semula pusat mereka berstatus independen dan tidak berafiliasi dengan perguruan tinggi, tetapi mereka banyak membantu sekolah tinggi dan universitas merancang program- program pengajaran bioetika atau etika profesi.
Globalisasi bioetika
Dengan demikian, gerakan bioetika lahir di Amerika Serikat. Dua lembaga perintis di Washington dan New York itu cepat sekali diikuti oleh pusat-pusat lain di Amerika. Tidak lama kemudian, di luar Amerika bioetika menarik perhatian. Mulai tumbuh pusat-pusat bioetika di Eropa, Australia, Amerika Selatan, dan banyak tempat lain lagi. Pada tahun 1985 pusat-pusat Bioetika di Eropa bergabung dalam ikatan kerja sama yang disebut European Association for Centres of Medical Ethics. Nama ini merupakan semacam kompromi. Rencana pertama memakai nama bioetika, tetapi anggota dari Perancis keberatan. Karena itu, disetujui nama yang lebih tradisional. Namun, tampaknya di Perancis juga kini istilah bioéthique sudah diterima sebagai biasa saja.
Sementara itu, globalisasi gerakan bioetika berkembang terus. Tidak bisa dihindarkan lagi, perlu dibentuk juga suatu organisasi internasional yang dapat memfasilitasi komunikasi global antara peminat-peminat bioetika. Hal itu terwujud dengan didirikannya International Association for Bioethics. Mereka mengadakan kongres perdana di Amsterdam pada tahun 1992. Sebagai ketua pertama dipilih Peter Singer, ahli bioetika terkenal dari Australia yang kemudian menjadi profesor di Amerika Serikat dan Kanada. Singer juga menjadi penggerak dan organisator utama untuk asosiasi internasional ini. Setiap dua tahun mereka menyelenggarakan kongres besar. Kongres Dunia yang ke-7 berlangsung di Sydney, Australia, November 2004. Jurnal resmi mereka berjudul Bioethics, yang sejak 2001 didampingi oleh Developing World Bioethics, menyoroti secara khusus masalah bioetika di negara-negara berkembang dan terbit dua nomor setahun.
Jika kita memandang gerakan bioetika sebagaimana sudah bergulir sejak kira-kira 35 tahun ini, ada terutama tiga ciri yang menonjol. Bioetika bersifat interdisipliner, internasional, dan pluralistis. Hal itu dapat dijelaskan lagi sebagai berikut.
Pertama, interdisiplinaritas sering disebut sebagai cita-cita ilmu pengetahuan, tetapi dalam kenyataan tidak begitu mudah untuk direalisasikan. Namun, bioetika dalam hal ini cukup berhasil. Bioetika menjadi semacam “meja bundar” yang mengumpulkan berbagai ilmu yang menaruh perhatian khusus untuk masalah kehidupan (bios): ilmu-ilmu biomedis, hukum, teologi, ilmu-ilmu sosial, tapi tempat utama diduduki oleh ahli-ahli etika filosofis. Jika kita melihat pusat-pusat bioetika atau forum-forum bioetika internasional, yang terutama menjadi penggerak dalam dialog interdisipliner ini adalah para etikawan. Hal itu hanya dimungkinkan karena etika filosofis sudah lama meninggalkan menara gadingnya dan para etikawan tentu harus bersedia memasuki betul bidang ilmiah yang mereka bicarakan, yang kadang-kadang sangat kompleks.
Kedua, internalisasi merupakan suatu ciri yang menandai bioetika sejak permulaannya. Para etikawan Amerika sering pergi ke luar negeri dan menerima tamu dari berbagai bangsa di pusat-pusat bioetika mereka. Ilmu pengetahuan menurut kodratnya bersifat internasional. Karena itu, problem-problem etis yang ditimbulkan dalam perkembangan ilmu-ilmu hayati bersifat internasional pula. Dengan demikian, mudah terjadi globalisasi bioetika yang dilukiskan tadi.
Ketiga, pluralisme merupakan ciri lain. Dalam dialog sekitar bioetika, sebanyak mungkin golongan dan pandangan diikutsertakan. Moral keagamaan didengar, bukan saja moral agama mayoritas, tapi juga moral agama-agama minoritas (kalau ada). Moral sekuler juga tidak diabaikan. Dialog bioetika diwarnai keterbukaan dan suasana demokratis. Di negara-negara yang punya peraturan hukum mengenai masalah kontroversial seperti aborsi atau eutanasia, sebelum keputusan diambil, diadakan diskusi luas untuk mendengarkan pendapat semua pihak yang berkepentingan. Akhirnya tercapai kesepakatan dalam parlemen meski barangkali tidak disetujui beberapa pihak agama. Namun, sebelumnya mereka sempat mengemukakan pendapatnya. Dalam demokrasi mau tidak mau harus terjadi demikian.
Kalau ditanyakan lagi mengenai agenda yang dikerjakan bioetika selama ini, barangkali dapat dibedakan tiga wilayah besar.
Pertama, masalah yang menyangkut hubungan antara para penyedia layanan kesehatan dan para pasien. Di sini termasuk banyak tema dari etika kedokteran tradisional. Namun, konteksnya sering berbeda juga karena dalam suasana modern, diberi tekanan besar pada otonomi pasien. Etika keperawatan bisa mendapat juga tempatnya di sini.
Kedua, masalah keadilan dalam alokasi layanan kesehatan. Bagi orang sakit, layanan kesehatan merupakan suatu hak asasi manusia. Kalau di Indonesia kita menganggap serius keadilan sosial (last but not least dalam urutan Pancasila), wilayah permasalahan yang kedua ini menjadi sangat penting.
Ketiga, wilayah paling luas adalah topik-topik etika yang ditimbulkan oleh kemajuan dramatis dalam ilmu dan teknologi biomedis. Di sini pertama-tama etika penelitian mendapat tempatnya. Di antara topik-topik etika yang paling menonjol saat ini boleh disebut masalah kloning, penelitian tentang sel-sel induk embrio dan banyak persoalan dalam konteks reproduksi teknologis. Misalnya, boleh kita ciptakan saviour siblings? Artinya, embrio yang melalui skrining genetik sudah dipastikan cocok untuk menjadi donor sumsum bagi saudaranya (nanti) yang menderita leukemia dan diimplantasi dalam rahim ibu semata-mata untuk menyelamatkan saudaranya yang sakit.
Penutup
Bioetika merupakan bidang ilmiah yang masih muda, tapi secara umum sudah tidak diragukan lagi pentingnya. Implikasi-implikasi etis dari kemajuan ilmu-ilmu biomedis memang mendesak untuk dipertimbangkan dengan serius. Tidak mengherankan, ilmu muda ini masih dalam perkembangan. Batas-batasnya pun kerap kali tidak jelas. Ada yang mengerti bioetika sebagai bioetika manusiawi saja dan ada yang mengerti ilmu ini sebagai refleksi etika tentang kehidupan pada umumnya. Hastings Center, misalnya, memasukkan lingkungan hidup dalam obyek penelitiannya, sedangkan Kennedy Institute tidak.
Dalam keadaan sekarang tampak dua lahan garapan untuk bioetika. Di satu pihak bioetika ditemukan dalam kalangan akademis. Ilmu ini sudah menjadi obyek pengajaran dan penelitian di perguruan tinggi. Sudah ada pakar, pertemuan ilmiah, publikasi, dan sarana- sarana komunikasi ilmiah lainnya, seperti lazimnya untuk sebuah ilmu dalam konteks akademis. Di pihak lain bioetika memainkan peranan dalam bidang praktis. Ia diundang membantu merancang public policy dalam mempersiapkan undang-undang atau peraturan hukum lainnya yang berkaitan dengan masalah- masalah biomedis. Ia diajak memberi sumbangan pemikiran dalam komisi etika rumah sakit atau institusi lainnya atau dalam komisi-komisi nasional dan internasional tentang masalah-masalah biomedis.
Peranan praktis bioetika tentu akan lebih berbobot kalau didukung oleh peranan akademis yang kuat. Di Indonesia sudah tidak dapat dihindarkan, kita bertemu dengan bioetika di bidang praktis. Namun, bioetika dalam arti akademis belum mendapat banyak perhatian. Meski demikian, kalau perguruan tinggi giat mengembangkan ilmu-ilmu biomedis, kita tidak boleh menutup mata untuk aspek-aspek etisnya. Mempelajari aspek-aspek ini secara serius, dengan sendirinya berarti terjun dalam bioetika.

Category : Uncategorized

BIOETIK KEPERAWATAN

Posted on March 28, 2010

Pengertian.
Bioetik adalah etika yang menyangkut kehidupan dalam lingkungan tertentu yang berkaitan dengan pendekatan terhadap asuhan kesehatan/keperawatan
Etika keperawatan mengacu pada bioetik yang terdiri dari 3 pendekatan
1)    Pendekatan Telelogik
2)    Pendekatan Deontologik
3)    Pendekatan Intiutionism
v  Pendekatan Telelogik
q  Menjelaskan suatu fenomena dan akibatnya
q   Pendekatan ini dihadapkan pada konsekuensi dan keputusan etik.
q   Membenarkan secara hukum tindakan atau keputusan yang diambil untuk kepentingan medis.
q   Pendekatan ini selalu digunakan dalam menghadapi masalah medis
Contoh kasus……………….
q  Dalam suatu kondisi seorang pasien harus segerah dioperasi sedangkan tidak ada ahli bedah yang berpengalaman, namun hanya ada ahli bedah yang belum berpengalaman untuk keselamatan pasien bisa dilakukan operasi.
q      Seorang perawat bisa menolong pesalinan bila tidak ada bidan.
v  Pendekatan Deontologi
q  Adalah merupakan suatu teori atau study tentang kewajiban moral atau  pendekatannya didasarkan pada kewajiban moral.
q  Moralitas dari suatu keputusan etis yang sepenuhnya terpisah dari konsukensinya.
q  Seorang perawat berkeyakinan bahwa menyampaikan suatu kebenaran merupakan suatu hal yang sangat penting dan tetap harus disampaikan .
Perbedaan 2 pendekatan pada kasus sbb;
q  Isu etis aborsi (teleologik); mungkin mempertimbangkan bahwa tujuan menyelamatkan kehidupan ibu, hal yang dibenarkan dalam tindakan aborsi.
q  Deontologik ; secara moral terminasi kehidupan merupakan hal yang buruk untuk dilakukan. Pendekatan ini dilakukan tanpa menentukan keputusan.
v  Pendekatan Intiutionism
q  Bahwa pandangan atau sifat manusia dalam mengetahui hal yang benar dan salah
q   Keyakinan akan etika keperawatan yang akan dilakukan dan meyakini baik dan benar.
q  Contoh kasus………..
Seorang perawat tentu mengetahui bahwa menyakiti pasien merupakan tindakan yang tidak benar. Hal tersebut tidak perlu  diajarkan lagi pada perawat, karena mengacu pada etika seorang perawat yang diyakini dapat membedakan mana yang benar dan mana yang buruk untuk dilakukan.

Category : Uncategorized

Etika Keperawatan

Posted on March 28, 2010

1.       Pengertian model konsep
²  Konsep adalah suatu keyakinan yang kompleks terhadap suatu objek, benda, suatu peristiwa atau fenomena berdasarkan pengalaman dan persepsi seseorang berupa ide, pandangan atau keyakinan. Kumpulan beberapa konsep ke dalam suatu kerangka yang dapat dipahami membentuk suatu model atau kerangka konsep.
²  Model konseptual mengacu pada ide-ide global mengenai individu, kelompok, situasi atau kejadian tertentu yang berkaitan dengan disiplin yang spesifik.
2.       Pengertian teori keperawatan
²  Teori adalah hubungan beberapa konsep atau suatu kerangka konsep yang memberikan suatu pandangan sistematis terhadap gejala-gejala atau fenomena-fenomena dengan menentukan hubungan spesifik antara konsep-konsep tersebut
²   Teori keperawatan didefinisikan oleh Steven (1984), sebagai usaha untuk menguraikan dan menjelaskan berbagai fenomena dalam keperawatan.
Karakteristik Teori Keperawatan
²  Teori keperawatan mengidentifikasi dan didefinisikan sebagai hubungan yang spesifik dari konsep keperawatan
²  Teori keperawatan harus bersifat ilmiah
²  Teori harus konsisten sebagai dasar-dasar dalam mengembangkan model konsep keperawatan.
²  Teori kep. bersifat sederhana dan umum
²  Teori dapat digunakan sebagai dasar dalam penelitian keperawatan sehingga dapat digunakan dalam pedoman praktek keperawatan.
Factor pengaruh teori keperawatan
²  Filosofi Florence nightingale
Meletakkan dasar-dasar teori keperawatan yang melalui filosofi keperawatan yaitu
ü  Mengidentifikasi peran perawat dalam menemukan kebutuhan dasar manusia pada klien
ü  Membuat standar pada pendidikan keperawatan dan standar pelaksanaan asuhan keperawatan yang efisien
ü  Membedakan praktek keperawatan dengan kedokteran dan perawatan pada orang sakit dengan orang sehat.
²  Kebudayaan
ü  Adanya pandangan bahwa dalam memberikan pelayanan keperawatan akan lebih baik dilakukan oleh wanta
ü  Budaya perawat
²  System pendidikan
ü  Pada system pendidikan telah terjadi perubahan besar dengan telah dimilikinyai system pendidikan keperawatan yang terarah
²  Pengembangan ilmu keperawatan
ü  Ditandai dengan adanya pengelompokan ilmu keperawatan dasar menjadi ilmu keperawatan klinik dan ilmu keperawatan komunitas yang merupakan cabang ilmu keperawatan yang terus berkembang
Tujuan Keperawatan
²  Diharapkan dapat memberikan alasan-alasan tentang kenyataan-kenyataan yang dihadapi dalam pelayanan keperawatan, baik bentuk tindakan atau bentuk model praktek keperawatan sehingga berbagai permasalahan dapat teratasi.
²  Membantu para anggota profesi perawat untuk memahami berbagai pengetahuan dalam pemberian asuhan keperawatan
²  Membantu proses penyelesaian masalah dalam keperawatan dengan memberikan arah yang jelas bagi tujuan tindakan keperawatan sehingga segala bentuk dan tindakan dapat dipertimbangkan.
²  Dapat memberikan dasar dari asumsi dan filosofi keperawatan sehingga pengetahuan dan pemahaman dalam tindakan keperawatan dapat terus bertambah dan berkembang.
Kesimpulan
²  Model konsep dan teori keperawatan memberikan pengetahuan untuk meningkatkan praktik, penuntun penelitian, dan kurikulum keperawatan serta tujuan praktik keperawatan.
²   Dengan adanya kerangka konsep dan teori keperawatan melahirkan aplikasi proses keperawatan yang menuntut perawat untuk menjalankan fungsi dan peranannya untuk mencapai suatu tujuan.

Peran pelaksana yang dikenal dengan istilah care giver. Dimana peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan secara langsung atau tidak langsung kepada klien sebagai individu, keluarga dan masyarakat. Dalam melaksanakan peran ini perawat bertindak sebagai comforter, protector  dan advocate, communicator  serta rehabilitator. Sebagai pendidik atau health educator, perawat berperan mendidik individu, keluarga dan masyarakat serta tenaga keperawatan atau tenaga kesehatan lain yang berada di bawah tanggung jawabnya. Peran sebagai pengelola, dalam hal ini perawat mempunyai peran dan tanggungjawab dalam mengelola pelayanan maupun pendidikan keperawatan yang berada di bawah tanggungjawabnya sesuai dengan konsep manajemen keperawatan dalam kerangka paradigma keperawatan. Sebagai pengelola perawat berperan dalam memantau dan menjamin kualitas asuhan/pelayanan keperawatan serta mengerganisasi dan mengendalikan system pelayanan kesehatan. Peran sebagai peneliti dimana perawat diharapkan mampu mengidentifikasi masalah penelitian, menerapkan prinsip dan metode penelitian serta memanfaatkan hasil penelitian untuk meningkatkan mutu asuhan atau pelayanan dan pendidikan keperawatan.
Category : Uncategorized